Dia sudah berumur 20 tahun. Kemarin kami baru saja merayakan ulang tahunnya. Ini tahun pertama dia memperingatinya tanpa dirimu. Ada sesuatu yang hilang rasanya ketika kami berfoto dan engkau tidak ada lagi bersama kami.
Aku cukup bersyukur karena beberapa saudara dan teman-temanku serta sahabat-sahabat kami yang ikut berbagi kebahagiaan dengan Merry. Sebenarnya masih ada 2 orang lagi sahabatku yang kuajak untuk berbagi ucapan syukur itu. Namun mereka tidak bisa hadir-satu karena ada kuliah sore dan malam itu, satu lagi karena tidak berada di kota hari itu.
Aku bersukacita karena masih bisa mengucapkan syukur berterima kasih atas kasih sayang Tuhan Yesus dalam kehidupan Merry. Namun aku harus jujur pada Tuhan dan jujur pada diriku bahwa aku tidak sepenuhnya bersukacita hari itu. Aku benar-benar merasa kejanggalan setelah kepergian dirimu.
Engkau selalu ada dalam foto-foto keluarga. Engkau selalu tersenyum di setiap foto. Engkau yang selalu membuat foto keluargaku sempurna walaupun aku jarang ada di dalam foto-foto tersebut.
Aku masih tersenyum ketika aku berfoto bersama Merry kemarin. Tetapi tidak banyak yang mengetahui (atau mungkin bahkan tidak ada yang mengetahui) bahwa aku juga menangis saat itu. Membayangkan saat-saat di mana engkau masih bersama Merry, saat engkau masih bersama kami.
Sebulan lebih engkau telah meninggalkan diriku. Walaupun sebenarnya sudah hampir sepuluh tahun aku meninggalkan dirimu. Dalam jangka waktu sepuluh tahun itu mungkin sekitar 5 atau 6 kali aku pernah mengunjungimu. Tidak banyak yang kita bicarakan di setiap pertemuan.
Aku merasa belum berhasil menjadi yang terbaik untuk dirimu. Tetapi ada sesuatu yang aku syukuri. Aku tau tanpa mengungkapkannya, engkau pun telah memahaminya, namun aku telah mengatakan langsung padamu betapa aku mencintaimu dan menyayangimu. Betapa semuanya itu mungkin karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi diriku.
Aku masih ingat engkau mengatakan kepadaku untuk mencari cinta yang lain karena engkau tidak bisa mencintaiku selamanya. Aku masih ingat percakapan terakhir kita ketika engkau masih bersamaku, hari pertama aku bertemu lagi denganmu setelah 1,5 tahun tidak bertemu. Saat itu engkau menanyakan apakah aku sudah menemukan seseorang yang mencintaiku karena engkau tidak bisa selamanya mencintaiku. Aku mengatakan bahwa aku belum menemukan yang engkau maksud (walau aku selalu punya Tuhan Yesus yang mencintaiku). Engkau kelihatan tidak terlalu bahagia dengan jawabanku, namun engkau mengerti bahwa aku masih terlalu senang dengan duniaku sekarang, dengan studiku.
Aku masih ingat ketika engkau mengatakan pada anak-anakmu kalau aku adalah yang paling peduli padamu. Aku merasa sangat bangga pada saat itu (walaupun aku tidak merasa terlalu bangga karena itu lagi saat ini. Aku merasa belum memberikan apa-apa padamu). Aku memberikan padamu oleh-oleh yang sudah kupersiapkan bagimu malam itu. Engkau sangat menghargainya bahkan ingin membawanya ke tidurmu.
Namun ternyata pagi itu engkau tidak bangun lagi. Namun engkau masih sempat menikmati secangkir coklat yang kubelikan sebagai oleh-oleh dan kusiapkan pagi itu. Engkau masih sanggup menerima sebutir permen yang kusodorkan padamu pagi itu, permen yang kusiapkan hanya untukku (permen sugar free itu kubelikan khusus untukmu). Namun ternyata itu ucapan selamat tinggal darimu untukku.
Aku tidak ingat bagaimana pertemuan pertama kita, namun aku ingat perjumpaan terakhir kita dan percakapan terakhir kita. Ada beberapa kenangan yang masih hidup di dalamku dan aku yakin itu tidak pernah akan mati.
Kembali ke tahun 80an, itulah kenangan yang masih melekat di ingatanku. Saat aku bersekolah, engkau yang sering menungguku di sekolah pada saat bel berbunyi menandakan kelas telah berakhir. Aku masih ingat engkau mengatakan padaku bahwa engkau harus menungguku cukup lama karena aku hampir selalu yang terakhir turun dari tangga sekolah. Namun engkau juga mengatakan bahwa tidak sulit menemukanku walaupun aku bukan yang terakhir, karena di antara ratusan anak, engkau mengenal cara jalanku dan tas sekolahku.
Engkau juga yang menemaniku dan menyuapiku makan siang saat aku masih kecil. Engkau pula yang menemani tidur siangku. Engkau selalu sabar mengajari banyak hal.
Aku masih ingat saat itu perasaan ingin tau timbul dalam diriku. Aku merasa aksara mandarin cukup menarik ketika aku melihat engkau cukup pintar dalam bahasa mandarin. Engkau yang pertama kali menjadi guruku saat itu. Engkau yang pertama kali mengenalkan kepadaku tulisan yang cukup rumit itu.
Dan aku juga masih ingat, engkau sangat pintar mengolah kata-kata menyampaikan isi hati dengan mempergunakan bahasa mandarin. Ada beberapa pribahasa yang masih membekas dalam diriku (tetapi aku merasa Linda mengingat lebih banyak pribahasa yang sering engkau pakai walaupun Linda sendiri tidak tertarik dengan bahasa mandarin). Banyak pelajaran kehidupan dalam pribahasa yang sering engkau sampaikan.
Engkau juga yang sering bercerita kepadaku mengenai pengalaman hidupmu saat perang terjadi di Indonesia. Engkau menceritakan bagaimana keluargamu pergi dari satu tempat ke tempat lain sering harus meninggalkan banyak harta benda dan memulai dari nol di tempat yang baru. Engkau bercerita bagaimana harus membantu kakakmu berjualan kue saat jaman penjajahan.
Engkau menceritakan keadaan pada waktu jaman Jepang dan Belanda di Indonesia. Hal itu seperti film yang diputar di depanku saat engkau bercerita. Engkau juga membandingkan kedua penjajah itu saat mereka menguasai Indonesia. Aku pikir bahwa buku sejarah akan lebih menarik kalau kisah-kisah rakyat kecil seperti engkau dimasukkan di dalamnya.
Yang cukup menarik engkau juga menceritakan pertemuanmu dengan suamimu. Sungguh menarik mendengar bagaimana engkau yang sudah disebut perawan tua di jaman itu akhirnya menikah juga dengan salah seorang lelaki paling tampan yang pernah kukenal dalam hidupku.
Engkau juga menceritakan perjalanan rumah tanggamu, kelahiran anak-anakmu. Bagaimana engkau harus berhemat saat itu demi kesejahteraan anak-anakmu karena keadaan keluarga yang sangat terbatas saat itu. Bahkan proses kelahiran anak-anakmu engkau ceritakan kepadaku. Bahkan ada juga rahasia yang engkau katakan bahwa hanya Linda dan aku yang mengetahuinya.
Aku masih ingat ketika aku mengejekmu bahwa engkau bertemu suami di lapangan bola karena kegemaran kalian menonton pertandingan sepak bola di televisi. Aku masih ingat ketika engkau hanya diam saja tanpa mengomentari ejekanku. Aku ingat betapa engkau menyukai acara olahraga dan film di televisi (saat itu acara televisi masih belum seburuk sekarang).
Aku masih ingat engkau yang membantuku mengerjakan pekerjaan rumah untuk sekolahku. Aku kurang ahli dalam pekerjaan tangan walaupun aku termasuk orang yang cukup cepat untuk belajar hal baru. Engkau yang mengajarku membuat beberapa pekerjaan tangan sekolahku saat itu.
Aku masih ingat ketika suatu kali aku sangat ingin membeli biskuit Jacob’s yang cukup mahal saat itu dan aku tidak punya uang. Aku mengatakannya kepadamu. Beberapa hari kemudian engkau memberiku uang supaya aku bisa membeli biskuit itu (biskuit itu masih salah satu kesukaanku).
Aku masih ingat pertama kali saat aku ingin mengenal komputer, engkau yang memberiku uang untuk ikut kursus karena saat itu aku belum mampu memilikinya dan sekolah juga baru mengajarkannya di tingkat SMU (padahal aku sudah mengerjakan tugas dengan komputer pertama sekali saat aku di bangku SMP, saat itu aku pergi ke rumah temanku).
Yang lebih berkesan bagiku adalah bagaimana engkau menolong Linda dan aku (terutama diriku) saat kami dihukum orang tua kami. Betapa bandelnya diriku, dan aku hampir yakin (bahkan sampai saat ini) bahwa aku tidak akan ada di keluarga ini kalau bukan karena dirimu (tetapi aku tidak pernah menyesali apa yang dilakukan orang tuaku kepadaku. Aku tau mereka menyayangi aku sehingga mereka ingin mendisiplinkan aku walaupun dengan cara yang ekstrem karena aku termasuk anak yang sangat keras kepala).
Terlalu banyak yang harus kuceritakan kalau aku harus menuliskan semua kebaikanmu. Engkau juga yang mengajarkan aku menikmati hidupku mencapai cita-citaku saat orang tuaku meremehkan diriku yang belum memiliki apapun dalam usia hidupku sekarang. Aku masih ingat ketika orang tuaku mengatakan bahwa aku belum memiliki apa yang seharusnya dimiliki seseorang dalam usianya yang tidak muda lagi: pekerjaan mapan, pasangan hidup dan keluarga. Engkau saat itu mengatakan kepada mereka biarlah diriku menikmati masa mudaku sesukaku sehingga aku bisa banyak belajar dalam hidup ini.
Engkaulah satu-satunya orang yang bisa kupeluk dan kukatakan cinta dengan perasaan senang dan tanpa canggung (Merry tidak suka lagi dipeluk untuk usianya sekarang, apalagi Linda). Aku kehilangan orang yang bisa memberikan kehangatan kasih sayang melalui pelukan, orang yang bisa kukatakan cinta karena aku mencintainya dan aku tau dia mencintaiku.
Aku sudah tidak punya lagi teman tidur di mana aku bisa bercerita sampai larut malam. Aku sudah kehilangan cintaku. Dan aku tau cinta itu tidak akan kembali lagi. Bahkan aku takut untuk mencintai lagi karena aku takut kehilangan. Tetapi aku bersyukur aku sadar bahwa aku masih bisa merasakan cinta itu karena Tuhan Yesus dalam hidupku.
Mungkin ini saatnya aku membagi cinta itu kepada dunia. Kasih dari Tuhan dan cinta darimu terlalu banyak untuk kutampung sendiri dalam hidupku. Bukan karena aku tidak butuh, tetapi sepertinya aku egois kalau tidak membagikannya dengan dunia ini. Aku mau memulainya dengan lebih peduli lagi pada Merry dan Linda serta orang-orang yang Tuhan perkenankan hadir dalam hidupku.
Engkau adalah malaikat dulu, sekarang dan selamanya. Aku bersyukur pernah memiliki engkau dan akan selalu memiliki cintamu dan kenanganmu dalam hidupku. Tidak pernah ada yang tau ketika tempat tidurku basah oleh air mata ketika aku kehilangan dirimu. Bahkan banyak yang merasa heran saat aku tidak menunjukkan perasaan apa-apa saat hari pemakamanmu.
Tidak ada lagi acara “pusing” memikirkan oleh-oleh buat engkau saat aku ingin kembali nantinya suatu saat lagi ke keluarga ini. Tidak ada lagi hari berburu oleh-oleh. Tidak ada lagi pertanyaan wajib dariku untukmu: Apakah keadaanmu baik saja hari ini. Tidak ada lagi perkataan: Aku sudah tidak bisa menggendongmu lagi walau aku mencintaimu, carilah cinta yang lain.
Kata kesepian pertama kali kukenal sesungguhnya saat ini, saat aku kehilangan dirimu. Seperti halnya kata cinta juga kupelajari darimu. Tidak ada lagi rasa sukacita bertemu denganmu jika suatu saat aku pulang ke keluargamu. Namun aku masih bersyukur kepada Tuhan bahwa kesepian itu tidak meninggalkan kekosongan dalam hatiku dan hidupku. Cinta Tuhan Yesus sanggup mengatasi segalanya. Masih banyak hal yang harus kulakukan.
Namaku dan namamu mungkin tidak pernah akan tercatat dalam sejarah. Namun aku ingin setiap orang yang sempat membaca surat ini tau betapa aku mencintaimu karena engkau mencintaiku. Bahwa aku pernah merasakan saluran kasih Tuhan demikian nyata dalam hidupku melalui hidupmu. Bahwa aku saat ini mungkin tidak bisa lagi bersamamu seperti saat engkau masih di sini, namun cinta yang pernah ada itu akan selalu ada di hidupku. Karena kasih itu adalah kasih yang mengalir seperti sungai. Dan walaupun aku belum pernah mendengarkan Bapa mengatakan kepadaku bahwa engkaulah malaikatku, tetapi aku selalu yakin bahwa engkaulah malaikatku selama-lamanya.
Dan terima kasih telah mencintaiku. Terima kasih telah menjaga Merry hampir 20 tahun. Engkau telah mendedikasikan waktu dan cintamu buat kami. Aku tidak pernah tau apakah aku bisa melakukan apa yang telah engkau lakukan. Warisanmu salah satu yang paling berharga dalam hidupku: cinta. Aku hanya meminta kepada Tuhan supaya aku bisa menjadi seperti apa yang Dia kehendaki dalam hidupku.
Ma, mungkin hanya itu saja yang bisa kutuliskan kepadamu saat ini. Betapa aku ingin melihat engkau tertawa lagi, walau aku tau bahwa hal ini tidak mungkin lagi. Namun aku masih menyimpan senyummu dan itu tak akan pernah hilang selamanya.
Sebenarnya aku agak takut menghadapi masa depan sendiri tanpa dirimu, tetapi aku tau Tuhan akan menolongku seperti Dia sudah menolongku selama ini. Dan aku masih bisa bersyukur karena aku tau dirimu tidak perlu khawatir lagi padaku saat ini.